Seperti diketahui isu lingkungan menjadi isu yang sangat sering diperhatikan, khususnya terkait limbah plastik. World Economic Forum pada tahun 2016 mencatat produksi sampah plastik mencapai 150 juta ton.

Dari jumlah tersebut, 8 juta ton plastik mengalir ke laut. Tanpa tindakan signifikan, diperkirakan pada tahun 2050, keberadaan sampah plastik akan lebih banyak ketimbang ikan di samudera. Kondisi ini tentunya akan mengganggu habitat laut dan sudah pasti keindahan laut terganggu.

Indonesia sendiri memiliki kontribusi yang tidak sedikit, karena menjadi penyumbang sampah plastik nomor 2 di dunia. Seiring dengan hal itu banyak upaya yang dilakukan masyarakat, pemerintah pusat maupun daerah terkait masalah sampah.

Tidak ketinggalan pula Bluebird Bali. Selain menjalankan bisnis, Bluebird Group juga berkomitmen menjadi bagian dari upaya perbaikan lingkungan. Hal ini diwujudkan dengan dilakukannya penandatanganan nota kesepahaman dengan World Wide Fund (WWF).

Upaya ini diawali dengan membangun komitmen di dalam tim. Hampir setahun terakhir, komitmen tersebut semakin kuat yang diwujudkan dalam bentuk aktivitas-aktivitas nyata dalam perlindungan lingkungan.

Selama 1 tahun terakhir, Bluebird Bali melakukan perhitungan produksi sampah, terutama sampah botol plastik. Menurut hasil penemuan mereka, 1.286.967 sampah botol plastik dihasilkan dalam 1 tahunnya.

Setelah mengetahui potensi sampah botol plastik tersebut. Pihak Bluebird Bali semakin ingin menguatkan komitmen untuk lebih terlibat aktif dalam upaya menangani sampah plastik ini.

“Ini angka yang tidak sedikit. Karena perusahaan lain belum tentu menyadari berapa produksi sampah mereka,” kata General Manager Bluebird Area Bali dr. I Putu Gede Panca Wiadnyana.

Menurut Panca  sendiri, adanya komitmen untuk mengurangi sampah botol plastik dengan mewajibkan seluruh karyawan memakai tumbler, Bluebird Bali kini bisa mengurangi 1.286.967 sampah botol plastik dalam 1 tahun.