Kemarin (26/08), acara Go Clean Our River (GCOR) 2019 kembali digelar. GCOR 2019 disambut antusias ribuan warga. Acara yang berlangsung sejak pukul 07.30 hingga sekitar pukul 10.30 ini dilaksanakan di Taman Mangrove, Jalan By Pass Ngurah Rai, KM 21, Kelurahan Pemogan, Denpasar Selatan.

Kegiatan ini sangat semarak oleh aksi serentak dari semua kalangan. Mulai dari pelajar, mahasiswa, pekerja, polisi, TNI, pekerja pariwisata, BUMN, pegiat LSM, jurnalis, hingga warga setempat untuk bahu membahu membersihkan sampah.

Dalam sambutan  di acara GCOR 2019, Gubernur Bali, I Wayan Koster, yang diwakilkan kepada Kepala Dinas Lingkungan Hidup, I Made Teja, mengatakan sangat mengapresiasi kegiatan bersih-bersih tersebut.

“Sebab  Bali ini memiliki alam, manusia yang menyatu dalam tatanan kehidupan, dinamika perubahan global. Alam Bali berisi pantai, danau, sebagai mata air serta pegunungan, gunung dan hilir sehingga bentang alam yang bernama nyegara –gunung,” papar Teja.

Teja mengungkapkan Bali memahami permasalahan sampah yang pelik. Timbulan sampah menyebabkan  banjir dan mengurangi estetika. Menurut dia, masalah sampah tidak selesai jika hanya pemerintah saja. Perlu dukungan masyarakat dan stakeholder pergub ini melarang penggunaan plastik dan styrofoam sehari-hari

Lebih lanjut, dia berkata Bali memiliki seni dan budaya dalam wadah desa adat dan desa pakraman yang suci agung dan metaksu. Oleh karena itu, harus dijaga serta ini memerlukan tanggung jawab bersama dan kepedulian bersama.

“Kita harus menghormati alam. Memanusikan alam. Memelihara ketersediaan air. Mengendalikan pencemaran dan konservasi sesuai visi-misi Gubernur Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” papar dia.

Sementara, Wakapolresta AKBP Benny Pramono didampingi Kasatbinmas Kompol Putu Utariani menyebut jika Bali di kenal sebagai pulau yang unik karena memiliki alam, manusia, budaya yang menyatu dalam satu kesatuan tatanan kehidupan yang terus hidup dalam tengah-tengah masyarakat.

Ibu-ibu Polwan dari Polresta Denpasar saat ikut membersihkan sampah plastik | Radar Bali

AKBP Benny berpendapat bahwa alam Bali merupakan alam yang sangat indah yang berisikan pantai, laut, danau, sungai, mata air, gunung, dan pegunungan, sehingga menjadi bentangan alam nyegara gunung atau di sebut dengan pasir berukir.

Namun, Pulau Bali kini mengalami permasalahan yang sangat pelik di mana timbunan sebaran sampah di sungai-sungai menjadi penyebab banjir dan mengurangi estitika. Penanganan sampah tidak akan selesai jika hanya urusan pemerintah saja. Perlu keterlibatan seluruh stakeholder, terutama masyarakat dalam rangka mengendalikan sampah plastik.

“Menarik ini, ke depan kami akan berkoordinasi dengan stakeholder terkait untuk sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya sampah plastik. Saya berharap, Radar Bali akan menggelar acara seperti ini lagi,” ucap dia.

Dia menambahkan, sejumlah pihak hari ini juga membersihkan hutan Manggrove. Dimana hutan Manggrove ini menjadi satu sisi yang terdampak oleh sampah plastik. Padahal, mangrove adalah salah satu ekosistem yang memiliki kehidupan biota laut dan  kehidupan manusia itu sendiri.

“Mari mengurangi plastik. Sekaligus kami juga mendorong kesadaran seluruh pemangku kepentingan untuk mengelola sampah dengan lebih bijak lagi,” tegas dia.