Selama ini keberadaan keramba jaring apung (KJA) disebut-sebut menjadi salah satu penyumbang terbesar pencemaran di Danau Batur, Kintamani. Pencemaran terjadi akibat dari banyaknya sisa pakan ikan yang jatuh dan menumpuk di dasar danau.

 Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Kabupaten Bangli telah merancang pembuatan denplot KJA ramah lingkungan dengan menggunakan jaring berlapis guna menekan pencemaran yang terjadi di Danau Batur.

Seperti yang dikutip dari laman Balipost, Sekretaris Dinas PKP Kabupaten Bangli Wayan Sarma juga tidak menampik bahwa keberadaan KJA selama ini memang ditenggarai menjadi penyumbang pencemaran Danau Batur.

Namun menurut Sarma, jika dibandingkan dengan limbah domestik dari rumah tangga, pencemaran yang disumbang dari KJA cukup kecil. Oleh karena itu, untuk menekan pencemaran yang semakin parah, pada tahun ini pihaknya telah merancang pembuatan denplot KJA ramah lingkungan.

Dia mengatakan pembuatan denplot KJA dianggarkan sebesar Rp 150 juta. Tujuan pembuatan denplot sendiri adalah sebagai KJA percontohan yang nantinya bisa ditiru dan diterapkan oleh seluruh pembudidaya ikan di Danau Batur.

Sarma menjelaskan , KJA ramah lingkungan dibuat dengan jaring berlapis. Pemasangan jaring berlapis bertujuan untuk meminimalisir pakan yang jatuh ke dasar danau. Selain itu, KJA ramah lingkungan akan dilengkapi dengan tanaman aquatik.

“Kalau KJA yang ada sekarang kan belum ada tanamannya,” ungkap dia.

Sarma mengungkapkan bahwa daya tampung KJA di Danau Batur hanya satu persen. Hal tersebut sudah sesuai hasil kajian yang dilakukan bersama Fakultas Perikanan Unud, dari total luas danau keseluruhan yang mencapai 1.065 hektare.

Dia menambahkan, daya tampung bisa ditambah satu persen lagi, jika nantinya semua pembudidaya ikan di Danau Batur sudah bisa menerapkan KJA ramah lingkungan.

“Untuk saat ini jumlah KJA yang ada keseluruhannya masih dibawah satu persen,” kata Sarma.