PT PLN (Persero) dan Pemerintah Provinsi Bali berkomitmen dalam penguatan sistem ketenagalistrikan dengan pemanfaatan energi bersih di Pulau Dewata. Komitmen tersebut diwujudkan oleh I Wayan Koster selaku Gubernur Bali dengan meneken memorandum of understanding (MoU) bersama PLN. Penandatanganan MoU tersebut digelar di Wiswa Sabha, Kantor Gubenur Bali, Jl Basuki Rahmat, Denpasar, Bali, pada Rabu (21/8) kemarin.

Plt Direktur PLN Sripeni Inten Cahyani menyebut saat ini kelistrikan di Bali memiliki daya mampu sebesar 1.320 MW yang dipasok dari PLTU Jawa-Bali 400 MW, PLTDG Pesanggaran 182 MW, PLTG Pesanggaran 22 MW, dan pembangkit BBM 336 MW.

Sripeni mengungkapkan pelaksaan kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Bali dilakukan bukan hanya untuk mencapai target dari pemerintah terhadap bauran energi secara nasional dari EBT sebesar 23% pada 2025 saja. Namun melalui kerja sama ini PLN juga akan mensinergikan perencanaan penyediaan tenaga listrik PLN dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali.

“Serta siap meningkatkan keandalan pasokan listrik di Provinsi Bali dengan pembangunan Jawa Bali Connection (JBC) untuk mendukung kesiapan sistem dalam menerima EBT yang ada di Bali,” lanjut dia.

Sripeni berharap dengan MoU ini, pembangunan JBC bisa menjamin ketersediaan energi di Bali, peningkatan pasar kendaraan listrik hingga penerapan tarif khusus untuk biaya pemanfaatan energi bersih yakni renewable energy maupun PLTS atap.

“Pada prinsipnya PLN berkomitmen dan sangat mendukung program pemerintah provinsi Bali menuju kemandirian energi dengan pemanfaatan energi bersih,” kata dia.

Pada kesempatan yang sama, Koster mengaku bahwa kerja sama ini merupakan bentuk tindak lanjut dari visi pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Dia berharap Bali bisa mandiri energi.

“Jadi Bali untuk jangkauan wilayah untuk dikelola kecil, jadi sangat mudah mengelola Bali asal ada kosep yang jelas keberanian dan ketegasan dalam konteks menjaga Bali. Dalam rangka pelaksanaan visi ini maka kami menyiapkan skenario, desain, nomor satu manfiri energi. Kedua energinya harus bersih, kenapa saya berpikir mandiri energi? Karena Bali ini daerah wisata dunia, jadi hrs punya energi cukup, berkelanjutan dan bersih,” jelasnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan yang menyaksikan penandatanganan MoU ini pun turut mendukung program-program yang disusun Koster terkait renewable energy. Apalagi Bali sebagai destinasi wisata harus meminimalisir polusi udara.

“Harapan Bali sebagai destinasi wisata internasional banyak bergantung pada kebersihan udara. Kalau kita ke Seychelles atau daerah lain yang mirip-mirip lah dengan sini, ini juga mereka akan keep the air as clean as possible tidak bisa di sini karena pulaunya tidak besar, tadi kata pak gubernur, tidak bisa dibangun tanpa memperhitungkan polusi udara. Kalau tidak memperhitungkan polusi udara pasti setengah mati, DKI sudah diprotes waduh polusinya begini, dsb, itu sharing dari saya,” tutup Jonan.