Sampah plastik yang ada di Danau Batur, Kintamani menjadi persoalan yang tak pernah usai untuk disoroti. Hal ini bisa terlihat setelah para pemuda Bangli yang tergabung dalam berbagai organisasi, melakukan bersih-bersih sampah plastik di sekitar danau, pada Sabtu (17/8) lalu, timbulan sampah plastik di permukaan Danau Batur masih merajalela.

Puluhan orang yang tergabung dalam DPK Peradah Indonesia Bangli bersama Bank Sampah Sibuh Nirmala, Sekaa Teruna Dharma Eka Paksi Desa Kedisan, dan Jegeg Bagus Bangli menyisir pinggiran Danau Batur sepanjang 700 meter di sebelah utara Dermaga Kedisan, Desa Kedisan, Kintamani.

Dari hasil penyisiran ini belasan karung sampah berhasil dikumpulkan. Sampah tersebut bermacam-macam, seperti sisa plastik pertanian, sisa pembungkus detergen, botol plastik, hingga styrofoam. Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya penggunaan plastik sekali pakai, ditengarai menjadi penyebab sampah merajela di kawasan ini.

Persoalan sampah yang ada di Danau Batur, membuat Bank Sampah Sibuh Nirmala Desa Kedisan konsisten melaksanakan bersih-bersih tiap pekan. Dari aktivitas rutin ini bank sampah terbentuk dan berada di bawah tanggung jawab I Gede Putrayasa Tangkas. Kemudian bank sampah plastik tersebut dikumpulkan dan diolah. Sedangkan, sampah organik juga diolah menjadi kompos.

“Gerakan kami semata-mata hanya ingin meminimalisir masalah sampah. Jika sampah sampai mencemari danau, itu bisa menimbulkan masalah bukan hanya bagi penduduk sekitarnya, tapi juga bagi masyarakat Bali secara umum. Kalau berdoa saja, itu sama saja mubazir,” tutur Gede Putrayasa.

Sementara itu, Ketua DPK Peradah Indonesia Bangli I Ketut Eriadi Ariana pun berkomentar, perlu adanya solusi terbaik yang tegas dan terarah dari para pemegang kebijakan sebagai upaya membatasi timbulan sampah plastik sekali, meskipun Gubernur Bali sejak tahun lalu telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 97 Tahun 2018.

Eriadi mengatakan bahwa khusus di Danau Batur sendiri, sebelum Pergub tersebut dikeluarkan, Bank Sampah Sibuh Nirmala Desa Kedisan beserta masyarakat sudah melakukan penyelamatan sejak 2016 lalu secara swadaya. Artinya, kesadaran tentang menjaga lingkungan sudah tersemai di masyarakat. Sekarang tinggal menjaga semangat ini dengan gerakan berkelanjutan. Kalangan muda jelas harus ambil bagian.

Menurut Eriadi Danau Batur sudah tercemar dan mendangkal, baik karena efek dari pertanian maupun budidaya ikan di keramba jaring apung (KJA). Untuk itu, perlu diambil langkah strategis, agar tak ‘membunuh’ salah satu, baik masyarakat petani, petani ikan, nelayan, juga bagi Danau Batur.

Lebih lanjut, Eriadi berkata penegakan aturan tentang sempadan danau tampaknya perlu diambil. Di sisi lain, pihaknya menyayangkan kondisi danau yang jauh berbeda dengan kondisinya beberapa tahun belakangan.

“Kalau kita lihat sekarang, pesisir danau kini telah berlumpur. Beda jauh dengan puluhan tahun lalu yang masih bersih,” sesal dia.