Jumat dan Sabtu (26 dan 27/7) lalu, “Bali Big Eco Forum” digelar di Nusa Dua, Bali. Forum diawali dengan pemaparan panelis dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Kementerian Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) dan sejumlah inspirator yang sudah melakukan pengolahan sampah.

Forum yang diselenggarakan oleh Coca-Cola Amatil Indonesia ini diikuti perwakilan dari pemerintah, akademisi, lembaga swadaya masyarakat, industri, serta bank sampah.

Gelaran diskusi lingkungan hidup “Bali Big Eco Forum” menghasilkan sejumlah rekomendasi terkait solusi pengelolaan sampah di Indonesia.

“Rekomendasi yang pertama, perlu adanya aksi nyata dalam hal pengelolaan sampah di Indonesia. Aksi ini tidak bisa dilakukan sendiri oleh salah satu pemangku kepentingan tapi saja, tapi harus semua,” tutur Direktur Public Affairs, Communications & Sustainability Amatil Indonesia Lucia Karina.

Selain itu, forum ini juga merekomendasikan adanya harmonisasi kebijakan serta adanya sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

“Selama ini kebijakan kita sudah punya banyak, tapi yang kurang adalah sinergi dan harmonisasi. Selain itu yang ketiga adalah mendorong agar pemerintah daerah dan pemangku kepentingan bisa lebih aktif dalam peran serta dalam bertindak. Tak ada lagi saling menyalahkan, yang ada mencari solusi bersama,” kata Lucia.

Rekomendasi hasil forum tersebut nantinya akan diserahkan kepada Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman yang merupakan inisiator Kemitraan Aksi Plastik Nasional atau “National Plastic Action Partnership” (NPAP).

“Belum tahu waktunya kapan, tapi mudah-mudahan hasil forum dua hari ini bisa memberi rencana aksi nyata yang konkret dan bisa diimplementasikan,” ungkap Lucia.

Di sisi lain, Ketua NPAP Mari Elka Pangestu mengatakan bahwa gelaran “Bali Big Eco Forum” sejalan dengan misi NPAP dalam mengurangi sampah plastik di lautan Indonesia yang menargetkan pengurangan sampah plastik di laut hingga 70 persen, mengurangi limbah padat hingga 30% dan mengelola 70% limbah padat pada Tahun 2025.

“Sejumlah aspek penting NPAP dalam menangani sampah plastik di lautan adalah dengan mengoordinasikan institusi yang bertanggung jawab mengelola sampah, hal ini termasuk memperkuat regulasi dan sumber daya manusia di berbagai sektor dan institusi. Selain itu pengaplikasian teknologi untuk mengontrol sampah plastik dan meningkatkan upaya sosial untuk mengurangi, mendaur ulang dan menggunakan kembali sampah plastik sejak dini,” jelas Mari Elka.

Indonesia sendiri menjadi negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar nomor dua di dunia setelah China. Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun. Sebanyak 3,2 juta ton di antaranya merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Sementara itu, berdasarkan sumber yang sama, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik. Oleh karena itu, Indonesia berambisius untuk mengurangi sampah plastik, utamanya di lautan.