Ni Kadek Devyani Amelia Kusuma, Seorang siswi Sekolah Dasar (SD) Saraswati 5 Denpasar berhasil menciptakan sedotan ramah lingkungan dan menyehatkan. Siswi kelas VI ini membuat sedotan berbahan rumput laut dan air jeruk.

Dilansir dari laman Berita Bali, permasalahan sampah plastik telah mengusik perhatian siswi kelahiran 17 Oktober 2008 tersebut. Devyani, begitu sapaan akarabnya, ingin mendukung kebijakan Pemerintah Provinsi Bali dan Pemerintah Kota Denpasar yang telah mengeluarkan aturan terkait pengurangan timbulan sampah plastik sekali pakai. Salah satu sampah plastik sekali pakai yaitu dalam bentuk sedotan, atas permasalahan ini Devyani berkeinginan membuat sedotan ramah lingkungan dan menyehatkan.

“Ide sedotan ramah lingkungan dan menyehatkan muncul ketika pergi ke restoran dan tidak ada sedotan” ungkap siswi yang pernah meraih Bronze Award dalam ajang Southeast Asian Mathematical Olympiad tahun 2018.

Menurut dia, rumput laut dipilih menjadi bahan utama karena mudah terurai dengan air, sehingga tidak akan mencemari lingkungan. Selain itu, komposisi zat gizi pada rumut laut terdiri dari karbohidrat, protein, lemak, natrium, kalium serta 80-90% air. Komponen lainnya yaitu vitamin A, Vitamin B1, riboflavin, niasin, kalsium, zat besi, kalium dan yodium.

Lebih lanjut, Devyani menjabarkan buah jeruk dipilih mengingat mudah dijumpai dan banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, serta kandunganya yang sangat baik bagi tubuh. Vitamin C dalam jeruk berperan sebagai zat antioksidan yang dapat menetralkan radikal bebas hasil oksidasi lemak, sehingga dapat mencegah beberapa penyakit, seperti kanker, jantung dan penuaan dini.

Yang lebih uniknya lagi, sedotan buatan Devyani tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bisa dimakan dan menyehatkan. Sebab agar-agar yang terbuat dari rumput laut yang digunakan mengandung asam amino, amino acid dan collagen. Sedangkan jeruk yang digunakan mengandung vitamin C.

Cara membuat sedotan ramah lingkungan ini sangatlah sederhana yaitu dengan membuat adonan air jeruk dan agar-agar rumput laut. Kemudian, adonan dimasak sampai mengental, setelah mengental dituangkan dalam cetakan. Agar-agar yang sudah mengeras dalam bentuk sedotan kemudian di oven dengan suhu 100o C selama kurang lebih 10 menit.

Sayangnya, sedotan hasil karya Devyani memiliki kekurangan. Jika dimasukkan ke dalam air panas akan mulai rapuh dan lembek setelah direndam selama 40 menit. Apabila dimasukkan kedalam air bersuhu normal akan mulai rapu dan lembek setelah direndam selama 1 jam 30 menit. Sedangkan jika dimasukkan kedalam air dingin akan tambah mengeras setelah 1 jam 30 menit.

“Daya simpan masih perlu diperbaiki, masih perlu adanya perbaikan daya simpan sedotan” kata siswa yang juga pernah meraih juara 2 dalam Lomba Matematika Kelas 5 SD pada I’ Maths National Competition.

Devyani mengakui sedotan yang dibuat secara tradisional belum dapat diproduksi dalam jumlah banyak dan masih memiliki varian rasa yang terbata. Dia berharap dalam penelitian kedepan dirinya dapat mengembangkan varian rasa sedotan yang lebih banyak.

Sebaai informasi tambahan, sedotan karya Devyani ini berhasil meraih juara 1 bidang produk dalam ajang Denpasar Inovation Award Ke-VII Tahun 2019. Dalam ajang tersebut, Devyani juga meraih 2 special award yaitu dari Tri Sakti Institut dan Madyapadma Institut.