Tidak dapat dipungkiri, nama Made Taro sudah sangat dikenal sebagai penutur cerita-cerita rakyat Bali. Pekak Taro, begitu dia disapa, berhasil menarik perhatian puluhan anak dan para turis yang datang untuk mendengarkannya berdongeng di Festival Tepi Sawah pada hari kedua, tepatnya Minggu (7/7) lalu. Dalam mendongeng di acara tersebut, Pekak Taro menggunakan tiga bahasa, yaitu bahasa Indonesia, Bali, dan Inggris.

Pria kelahiran tahun 1939 itu pun mengkombinasikan kisah-kisah jenaka dengan permainan anak-anak, seperti dalam cerita ‘Dadong Dauh’ yang terinspirasi dari lagu rakyat Bali. Uniknya, lagu yang berkisah tentang kerepotan seorang nenek menghadapi keusilan anak-anak ini dijadikan sebagai sumber cerita dengan menyisipkan pesan untuk menjaga lingkungan hidup dalam nyanyiannya.

Salah satu contohnya lirik yang terkandung dalam lagu ‘Burung Camar’, Pekak Taro mengganti sepenggal liriknya menjadi, “Kurangi, gunakan kembali, dan daur ulang”. Pekak Taro berharap, hal tersebut bisa menjadi pesan dan pengingat agar manusia selalu mencintai lingkungan hidupnya dengan mengurangi dan mendaur ulang sampah.

Kemudian, pesan untuk mendaur ulang yang disampaikan Pekak Taro, langsung dipraktikkan dalam sesi workshop bersama Arum Christina. Sebanyak 80 anak, Arum bagi ke dalam beberapa sesi untuk diajak melukis botol plastik bekas menggunakan cat akrilik water-based yang aman.

Botol-botol bekas yang sudah dikreasikan itu dapat dipakai untuk pot tanaman atau kotak pensil. Arum mengaku, melalui kegiatan ini, dia ingin mengajarkan kepada mereka untuk mengurangi sampah plastik dan memanfaatkan sampah sebagai barang yang bisa digunakan kembali.

“Festival ini menjadi momen untuk menyebarkan pesan agar orang aware kenapa kita mesti membuat art dari botol bekas agar bisa dipakai lagi,” ungkap Arum.

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan mengajak anak-anak menggambar pahlawan super atau superhero yang dibimbing oleh Gustra Adnyana dari Little Talks, sebuah kafe dan perpustakaan yang ada di Campuhan, Ubud.

“Kita memang fokus dalam pengembangan imajinasi karena kita tahu anak-anak Indonesia, kan, banyak sekali yang tidak pernah membaca, kadang hanya tahu dari TV,” kata Gustra.

Gustra menjelaskan banyak anak-anak yang membuat superhero yang memiliki karakter untuk menyelamatkan sawah. Menurut Gustra, hal ini sangat wajar. Sebab, anak-anak Bali memang hidup sangat dekat dengan sawah, sehingga mereka memiliki imajinasi bahwa sawah merupakan rumah mereka.

Namun, kata Gustra, imajinasi anak-anak itu tetap mendapat pengaruh dari tontonan televisi. Hal itu bisa dilihat dari kekuatan yang dimiliki superhero yang mereka buat, yakni angin, api, dan air.

“Namun hal ini cukup bagus. Harapan saya, lewat sesi ini bisa tercipta buku anak sendiri dari Indonesia dan ide-ide mereka bisa dibawa ke lingkungan sehari-hari,” tutup Gustra.