Untuk peduli lingkugan, setiap orang bisa dapat inspirasi dari berbagai hal. Salah satunya seperti yang dilakukan Ketut Darmawan. Pada bulan Mei lalu, Darmawan menggarap teater daur ulang sampah recycling.

Teatrikal recycling yang dipentaskan di panggung terbuka, depan Monumen Puputan Klungkung ini merupakan teatrikal yang dibawakan oleh kelompok swadaya masyarakat Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Dharma Winangun, Desa Tangkas,Klungkung.

Dalam pementasannya tersebut, Dermawan mengilustrasikan bahaya membuang sampah sembarangan. Sampah yang berserekan tersebut dapat mengakibatkan muncul banyak sarang nyamuk dan lalat. Dua jenis vector ini dapat menyebarkan penyakit, seperti demam berdarah dan diare.

“Makanya dalam adegan teatrikal ini mengilustrasikan ada banyak masyarakat terserang diare dan sakit perut,” ungkapnya.

Akhirnya, karena bisa menyababkan penyakit, salah seorang masyarakat mengajak anak-anak dan warga untuk kembali membersihkan lingkungan dari sampah dan melakukan daur ulang. Dengan melakukan daur ulang sampah, sampah ternyata bisa memiliki nilai ekonomi dan seni.

Darmawan selaku penggagas cerita teater ini pun mengaku tujuan dia mengambil tema recycling teater ini adalah untuk mengedukasi masyarakat melalui seni gerak dan tari tentang bahaya sampah. Dari pementasan ini, Darmawan ingin mengajak masyarakat untuk bersama-sama memerangi sampah agar dapat menjadi nilai ekonomi, dan akibat apabila sampah tidak dikelola dapat menimbulkan wabah penyakit.

Selain itu, dalam pementasan teatrikal juga menampilkan tarian Barong dan Rangda yang terbuat dari sampah plastik dan koran. Darmawan bersama tim berhasil mengumpulkan sampah jenis plastik dari 8 kg dan koran 4 kg. Sampah ini didapat dari berbagai lokasi di Kabupaten Klungkung untuk dibuat Barong.

Sampah plastik untuk Barong dan gapura berasal dari pembukus mie, kopi, dan snack. Rangda dibuatkan dari bibit ental, batok kelapa, kelapa kering, daun ental yang dirangkai seperti ulatan. Dalam pementasan teater ini yang berperan sebagai koreografer adalah I Putu Indra Wirayudha dan pembina Dewa Putu Slamet Raharja. Sementara, persiapan pembuatan Barong dan Rangda serta latihan teater memakan waktu kurang lebih sebulan.

Di sisi lain, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta didampingi Ny Ayu Suwirta turut serta menyaksikan pentas tersebut. Bupati Klungkung Suwirta sangat mengapresiasi penampilan teater ini. Dia berharap, penampilan teater ini dapat menggugah masyarakat Klungkung untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.

Lebih lanjut, dengan inovasi Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS) yang sudah diterapkan pada beberapa desa di Kabupaten Klungkung, Suwirta berharap bisa menjadi salah satu solusi penanganan sampah di Kabupaten Klungkung maupun di Indonesia.

“Masyarakat Klungkung bisa mencontoh dan melaksanakan Program Pemkab Klungkung yakni TOSS tersebut dengan baik, untuk menjadikan kabupaten Klungkung terbebas dari sampah,” tutup Suwirta.