Tidak bisa dipungkiri bahwa air yang bersih sudah menjadi kebutuhan dasar manusia. Oleh karena itu, desa yang kering pun harus kreatif memanfaatkan energi demi mendapatkan air yang layak dikonsumsi. Salah satunya seperti yang dilakukan oleh para inovator kincir air yang tergabung dalam Kelompok Cipta Karya di Desa Bukian, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali.

Menurut Wayan Budiana, salah seorang anggota dari Kelompok Cipta Karya mengatakan mesin kincir air yang mereka ciptakan merupakan bentuk teknologi ramah lingkungan. Cara berputar kincir air ini hanya memanfaatkan energi kinetis yang berasal dari arus air yang mengalir dari mata air Gunung Batur menuju Desa Bukian.

Wayan mengatakan alat itu bisa membantu masyarakat yang kekurangan air bersih dan digunakan untuk irigasi sawah, perkebunan, dan peternakan. Saat ini, pihak Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga telah mengembangkan teknologi tersebut dengan menjual air kemasan langsung dari mata airnya. Kemudian, pengelolaan mesin kincir air bersih itu diserahkan pada lembaga PAM desa dan ditindaklanjuti dengan pemasangan instalasi pipa untuk mendistribusikan air bersih hingga menjangkau rumah-rumah penduduk.

’’Tempat kami dulu mengalami kesulitan air bersih sudah mendapat solusinya,’’ ungkap Wayan.

Dia berkata jika pemerintah desa sudah responsif pada gagasan baru dan potensial akan membawa perubahan desa yang lebih baik. Karena itu, penting untuk menumbuhkan kreativitas warga agar bekerja lebih baik demi kemajuan dan kemandirian desa.

’’Hal itu membuktikan bahwa tidak semua teknologi membutuhkan biaya yang mahal,’’ tambah Wayan.

Kini, Program Inovasi Desa (PID) dalam bentuk pemanfaatan teknologi ramah lingkungan itu tidak hanya dimanfaatkan oleh satu desa saja. Sebab, Kelompok Cipta Karya sudah menularkan ilmu hingga ke desa-desa lain di Bali. Sedikitnya ada lima titik mata air yang sudah mengembangkan kincir air itu. Bahkan, ada permintaan hingga ke Kabupaten Karang Asem untuk menggunakan teknologi yang sama.