Persoalan pencemaran lingkungan di Bali saat ini sudah semakin memperoleh penanganan yang serius. Tak hanya wacana, I Wayan Koster Gubernur Bali telah mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.

Koster mengungkapkan Pergub ini bertujuan untuk menjaga keharmonisan dan keseimbangan lingkungan hidup yang sesuai dengan visi Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali “Nangun Sat Kerthi Loka Bali.” Partisipasi dari masyarakat Bali dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup pun memiliki peran yang sangat penting.

Maka dari itu, masyarakat dianjurkan untuk mengurangi penggunaan produk yang membahayakan lingkungan dan beralih ke produk yang ramah lingkungan, seperti penggunaan tas kain pengganti kantong plastik sekali pakai, tempat minum pengganti botol minuman plastik, dan sedotan bambu pengganti sedotan plastik.

Selain permasalahan sampah plastik, polusi udara juga menggangu keseimbangan lingkungan. Hal itu seringkali diakibatkan banyaknya proses pembakaran di kehidupan sehari-sehari, seperti pembakaran sampah, emisi gas buang kendaraan bermotor atau asap knalpot, hingga asap rokok.

Ada beragam solusi yang bisa dilakukan untuk mengurangi polusi udara di Bali. Misalnya saja, penggunaan sarana transportasi umum yang menjadi kunci untuk mengurangi asap knalpot. Kemudian pengelolaan sampah menjadi kompos juga salah satu solusi untuk mengurangi kebiasaan membakar sampah. Selain itu, penggunaan produk tembakau alternatif yang tidak melalui proses pembakaran bisa menjadi solusi untuk mengurangi asap rokok yang menganggu bagi perokok dan orang-orang di sekitarnya.

Solusi tersebut kini mulai banyak diterapkan oleh masyarakat Bali yang kemudian digeluti menjadi suatu gerakan sosial ataupun dikemas melalui industri kreatif. Sebut saja, gerakan sosial yang menolak konsumsi plastik dan berinovasi menggunakan sumber daya alam lain yang ramah lingkungan.

Hal tersebut bisa terlihat dari sudah ada komunitas yang peduli dengan sampah atau limbah yang kemudian diolah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Lalu, UMKM yang berfokus pada produk tembakau alternatif, yang tidak hanya memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok, namun juga lebih ramah bagi lingkungan karena tidak menghasilkan asap yang menggangu.

Semua pihak bersemangat menawarkan kiprah aktif dalam melestarikan lingkungan guna menjaga keseimbangan lingkungan. Sehingga pemerintah diharapkan bisa menjaga semangat positif masyarakat dengan mengapresiasi semua elemen dan konsisten mendukung upaya tersebut.