Ada yang sedikit berbeda di Kabupaten Klungkung, Bali. Pasalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung memberikan dukungan terhadap pengembangan ekonomi kreatif melalui cara yang berbeda. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan sampah yang sudah tidak dipakai oleh masyarakat melalui program‎ Tempat Olah Sampah Setempat (TOSS).

Menurut, I Nyoman Suwirta selaku Bupati Klungkung, TOSS merupakan program yang bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknik (STT) PLN Jakarta. Hal ini jugalah yang membawa Pemkab Klungkung menjadi pelopor pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) skala industri pertama di Indonesia.

“Program TOSS memiliki metode yang dapat mengubah sampah menjadi briket menggunakan mesin bio activator. Kemudian briket tersebut dapat dijual kepada pihak Indonesia Power atau digunakan sendiri,” kata Suwirta.

Lebih lanjut, Suwirta menjelaskan bahwa mesin bio activator ini miliki daya tampung 1 ton sampah. Jika diolah akan menghasilkan 600 kg briket dan dari 600 kg briket tersebut dapat menghasilan listrik setara 400 Kilo Watt (KWh). Dengan 400 KWh tersebut, barulah dapat memenuhi kebutuhan listrik 40 rumah selama 24 jam.

Suwirta pun optimistis program TOSS ini dapat menjadi sumber ekonomi kreatif yang baru, khususnya bagi masyarakat di sekitar Kabupaten Klungkung. Sebab, adanya pasokan listrik dari program ini menjadi salah satu penopang berjalannya industri kreatif di kabupaten tersebut.

“Dalam sehari Klungkung dapat menghasilkan 60 ton sampah, dan itu setara dengan 1.300 KWh atau 1,2 Mega Watt (MW) dan cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik 120 rumah selama 24 jam,” ucap Swirta.

Terbukti, program TOSS yang telah berjalan ini tidak hanya bermanfaat bagi masyarakat sekitar, tetapi juga telah diakui manfaatnya oleh pemerintah pusat. Melalui program ini, Kabupaten Klungkung, Bali menerima penghargaan Top 40 Sistem Inovasi Pelayanan Publik (Sinovik) Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB). ‎