Sudah banyak inisiatif dari masyarakat untuk mengolah sampah agar barang-barang yang dianggap tidak berguna berubah menjadi barang yang bermanfaat. Salah satunya adalah seperti yang dilakukan oleh komunitas Satya Bali Kreatif. I Ketut Yudi Mahendra, beserta ketiga orang rekannya lah yang mampu mengubah sampah menjadi kerajinan bernilai ekonomis tinggi.

Dilansir dari laman Kumparan, Yudi memaparkan berawal dari kepeduliannya terhadap lingkungan yang dipenuhi oleh sampah. Akhirnya, dia memutuskan untuk membentuk komunitas Satya Bali Kreatif dari tahun 2013 silam dengan bantuan Pusat Pendidikan dan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali.

“Diawal produk yang diolah berasal dari kertas dan plastik. Hanya saja kualitasnya masih berbeda jauh dengan yang kami miliki sekarang”, ujar dia.

Saat ini, Yudi dan rekan-rekannya sudah mampu untuk membuat kerajinan yang kualitasnya lebih baik lagi. Menurut dia, ha ini tentunya tidak terlepas dari bantuan Pemerintah Kota Denpasar yang telah memberikan fasilitas berupa studi banding keluar daerah. Untuk melihat apa yang orang-orang luar lakukan.

“Sudah 3 kali kami diberangkatkan keluar oleh Pemkot, seperti ke Malang dan Surabaya. Ilmunya harus kami terapkan di Bali”, kata Yudi.

Lebih lanjut, laki-laki berumur 50 tahun ini berkata, pengolahan botol plastik dia gunakan untuk dinding menyekat, serta untuk lampion. Untuk plastik saset, dibuat tikar dan tas perempuan. Adapun wilayah penjualan dari produk sampah ini yaitu masih di sekitaran Bali.

“Di Bali saja permintaanya sudah banyak, bahkan kami sampai kewalahan untuk pembuatan tas”, ungkap dia.

Selain masyarakat lokal, komunitas Satya Bali Kreatif juga sering dikunjungi oleh warga dari luar pulau. Di antaranya ada yang dari Malang, Sulawesi, Irian dan Surabaya. Mereka datang untuk berkunjung ke Bali dan juga membeli kerajinan dari sampah yang diolah oleh komunitas ini.

Saat ini yang paling digemari adalah tas. Bahan untuk pembuatan tas sendiri, dibuat dari bagian atas gelas minum. Yang diperoleh dari Bank Sampah sekitaran Kota Denpasar. 1 Kg sampah lingkar atas gelas plastik dihargai sejumlah 35.000 per Kg, dengan catatan sudah dibersihkan sebelumnya.

“Harga tas berukuran besar yang ditawarkan sebesar 150.000, dengan kualitas yang dijamin kuat. Sebab mampu membawa 5 Kg hingga 10 Kg barang. 1 minggu ada 3 samapi 4 tas yang bisa laku terjual”, tutur Yudi

Tidak hanya itu, sampah jenis Koran pun diolah oleh komunitas ini menjadi tempat makan . Untuk harganya tergantung ukuran dan tingkat kerumitanya. Biasanya, harganya berkisar antara Rp 20.000 – 25.000. Kemudian untuk tempat sarana upakara sejumlah 55.000 sampai 200.000.

Untuk selanjutnya, komunitas ini akan mencoba membuat tempat baju kotor dari sampah botol air mineral. Yudi berharap bisa selalu berinovasi untuk membuat kerajinan yang dapat mengurangi jumlah sampah.