Masalah sampah seperti tak ada habisnya jika dibahas. Banyaknya sampah yang dihasilkan masyarakat setiap harinya, membuat sampah-sampah itu sampai tak bisa tertangani. Bahkan sampah di Penglipuran, Kelurahan Kubu, Bangli, yang terkenal sebagai desa wisata baru-baru ini cukup membuat tercenang.

Pasalnya, pemandangan sampah berserakan dan bau tidak sedap muncul di beberapa titik. Seperti terpantau di parkir depan Tugu Pahlawan di Desa Penglipuran. Padahal, desa ini dikenal sebagai desa terbersih di dunia.

Di sana hanya ada satu bak sampah yang sudah karatan dan rusak. Sehingga sampah plastik dan sampah rumah tangga hanya dikumpulkan di karung saja.

Meskipun demikian, sampah itu tetap saja berserakan dan baunya menyebar kemana-mana. Hewan-hewan seperti anjing dan ayam pun jadi mengotak-atik sampah. Kondisi tersebut, tentu saja menimbulkan kesan kumuh. Sehingga desa wisata yang idealnya harus bersih, justru jadi tak enak dipandang.

Ketua Pengelola Desa Wisata Penglipuran I Nengah Moneng sangat menyangkan kondisi ini. Dia mengaku malu kepada  para wisatawan. Sebab, lokasi sampah yang berserakan dekat dengan parkir bus pariwisata. Tentunya wisatawan yang datang akan melihat sampah tersebut.

“Di mana lagi letak sisi desa bersihnya?” tanya Moneng dengan heran.

Seperti yang dilansir dari laman Bali Express Jawapos, Moneng menyatakan sudah mengajukan permohonan bantuan tempat sampah ke Balai Lingkungan Hidup Provinsi Bali. Kata Moneng, butuh tiga tong untuk menampung sampah warga.

Menurut Moneng, Desa Penglipuran harus menyediakan dana yang cukup besar untuk membeli tempat sampah berukuran besar. Namun, pihak desa terbentur dana. Pasalnya, pendapatan dari kunjungan wisatawan sudah disalurkan ke pemerintah kabupaten sebesar 60 persen.

“Sisanya belum bisa mengakomodasi kebutuhan itu,” jelas dia.

Moneng memang membenarkan sebelumnya terdapat dua bak sampah. Masing-masing ditempatkan di area parkir (utara dan selatan). Namun, bak di parkir tugu pahlawan telah ditarik pemerintah daerah. Alhasil warga menjadi kebingungan karen mencari tempat pembuangan. Sampah itu tidak hanya dihasilkan warga, namun juga sampah dari wisatawan.

“Jadi idealnnya ada tiga bak sampah besar yang harus disediakan. Satu untuk parkir utara, satu di tengah obyek wisata, satu di parkir tugu. Sehingga bisa tertampung,” ungkap Moneng.

Dia menginginkan pemerintah atau dinas terkait menyikapi dengan serius. Moneng sangat berharap ada barangnya, bukan janjinya. Tidak hanya itu, dia juga berharap permohonannya di provinsi dapat segera dikabulkan.

Di samping itu, Gusti Laksana selaku Plt Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangli menyanggupi pengadaan bak sampah akan terealisasi pada semester kedua tahun 2019.

“Sesuai permintaan, akan diberikan tiga bak sampah. Masing-masing di parkir hutan bambu, satu di area parkir tugu pahlawan, dan satu ditempatkan di seputaran wantilan Banjar Penglipuran,” tegas Laksana.