Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) di Provinsi Bali memberikan mesin pelet vertikal ke Desa Paksebali, Klungkung. Mesin ini berfungsi untuk mengolah sampah menjadi pelet dan dapat digunakan sebagai bahan kompor masak serta bahan bakar tenaga listrik.

Azka Subhan A., selaku Deputi Kepala Perwakilan KpwBI Bali menungkapkan bahwa apa yang dilakukan saat ini adalah upaya BI dalam mewujudkan Indonesia bersih tanpa sampah, lingkungan sehat, dan mewujudkan pariwisata clean and green.

Azka, begitu, sapaan akrabnya, mengatakan awalnya program ini bernama ‘Indonesia Bersih’ dan berasal dari kantor pusat.

“Kami melihat di Bali ini kebersihan bisa mendukung pariwisata. Sebab masalah utama pariwisata di Bali adalah sampah dan kemacetan lalu lintas,” kata Azka.

Seperti yang dilansir dari laman Tribun Bali, Azka menceritakan 3 bulan yang lalu, dia datang berkunjung ke Bupati Klungkung dan diceritakan ihwal Tempat Olah Sampah (TOSS) di Desa Paksebali.

Waktu itu pihak BI belum ada dana, sampai November 2018 pihak BI memiliki dana sekitar Rp 100 jutaan dan pihak BI membantu membeli mesin pelet ini. Untuk membeli mesin pelet sendiri harganya sekitar Rp 80 juta, dan sisanya untuk kebutuhan lainnya.

Menurut Azka, bantuan ini sangat penting, mengingat Desa Paksebali sedang menyandangkan diri sebagai desa wisata. Sehingga hal ini sesuai dengan tujuan BI dalam pengembangan desa wisata.

Azka pun berharap, mesin peyemisasi dan pelet bisa terintegrasi menjadi satu mesin. Pasalnya, jika dilakukan berkali-kali lumayan menghabiskan solar.

Target dari bantuan ini sendiri adalah sebagai alat untuk alternatif energi listrik yang lebih murah daripada PLN.  Sehingga sampah hilang dan berguna menjadi listrik di Desa Paksebali.

Intinya, kata Azka, BI mendukung sepanjang usaha untuk go green dan wisata, termasuk dalam pengembangan pertanian untuk pengendalian inflasi. Bahkan untuk menambah alat pun BI bisa melakukannya ke depan, apalagi untuk desa wisata.

Sementara, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Causa Iman Karana mengatakan, pada tahun 2018 Bank Indonesia bersama GenBI di seluruh wilayah Indonesia menginisiasi penyelenggaraan kegiatan sosial dengan mengangkat tema ‘Bersih Indonesia’, yang memprioritaskan program di bidang lingkungan hidup.

Karana menjelaskan KPwBI Bali bersama GenBI menyerahkan bantuan dua mesin pelet sampah sebagai bentuk dukungan terhadap program inovasi pelayanan publik dalam bidang pelestarian lingkungan hidup. Khususnya dalam menjaga kebersihan lingkungan di Kabupaten Klungkung yang juga menjadi salah satu destinasi wisata di Provinsi Bali.

Selain itu, pemilihan Kabupaten Klungkung untuk pelaksanaan program ‘Bersih Indonesia’, kata Karana, juga salah satu dukungan dan apresiasi terhadap upaya serius Kabupaten Klungkung berinovasi dan terobosan menanggulangi masalah sampah, serta pengentasan persoalan sampah yang tengah berjalan saat ini yakni TOSS.

Di sisi lain, Bupati Klungkung, Nyoman Suwirta, mengatakan ada sekitar 12 alat TOSS. Suwirta berharap TOSS desa ini akan bisa sampai 100% karena dapat membantu menciptakan lingkungan bersih. Bahkan, kini Klungkung mendapatkan permintaan 3,5 ton pelet per hari, untuk PLTD yang ada di Jeranjang. Sementara di Klungkung membutuhkan 800 kg pelet per hari.

“Sekarang belum bisa dipenuhi karena alatnya belum memadai. Sehingga diperlukan edukasi kepada petugas yang ada di masing-masing desa untuk prosesnya. Sebab hasil yang besar harus datang dari proses. Sedangkan, TOSS hanya bisa menghasilkan sekitar 500 gg per hari dari mesin yang ada,” jelas Suwirta.

I Made Mustika, Ketua Bumdes Desa Paksebali, memaparkan salah satu unit usaha BUMDes adalah pengolahan sampah. Prosesnya, sampah diambil dari depan rumah warga diangkut petugas dan dipilah organik-non organik.

Setelah itu, sampah yang masih mentah dicacah lalu dikeringkan atau dipiyem (fermentasi), setelah 2-3 bisa dicacah menjadi rabuk dengan diayak dulu. Untuk TOSS ini, dipiyem lalu diisi cairan, dengan cairan bioantifaktor dimasukkan ke tempat piyem bernama keramba. Setelah 2 minggu dan kering baru dicacah, lalu dicampur dengan air menjadi pelet.

“Pelet ini, bisa dipakai bahan bakar, kemudian nanti bisa dipakai bahan bakar listrik. Lebih lama proses membuat pupuk daripada untuk TOSS ini, kalau untuk pupuk harus organik kalau untuk pelet bisa dicampur plastik,” jelas I Made Mustika.

Kapasitas yang dihasilkan adalah 200 kg per jam. Sementara produksi sampah di Desa Paksebali sekitar 2 truk per hari.

“Listriknya belum bisa kami berikan karena baru beroperasi. Sehingga manfaat ekonominya sendiri memang belum kelihatan, kalau sudah menghasilkan baru kelihatan manfaat ekonominya,” tambah I Made Mustika.