Sejak November tahun lalu, Starbucks Indonesia mulai melakukan kampanye hijau dengan menggunakan bahan ramah lingkungan untuk mendukung produk-produk minumannya. Penggunaan bahan ramah lingkungan ini sudah dimulai di Bali per November 2018 sebagai pilot project untuk lokasi lainnya.

Vidi Prima Lestari Putri selaku Asisten Manajer Public Relation PT Sari Coffee Indonesia mengatakan bahwa pihaknya memiliki yang kampanye bertajuk Starbucks Greener Nusantara dengan menggunakan bahan ramah lingkungan yang tidak menggunakan plastik.

Salah satu contoh benda ramah lingkungan yang diterapkan oleh Starbucks adalah dengan menggunakan sedotan kertas, stik pengaduk kopi yang terbuat dari kayu, tutup kemasan gelas yang menggunakan bahan saripati jagung, serta kantong yang terbuat dari bahan dasar singkong.

“Di Jakarta dan Bodetabek belum dimulai, hari ini baru dimulai di Bali. Memang di Jabodetabek lebih banyak marketnya, gerainya juga, tapi karena di Bali kemarin sedang konsern tentang lingkungan, jadi pilotnya di sana,” ujar Vidi.

Vidi juga mengatakan pihak Starbucks mempunyai program 2020 mengurangi penggunaan sedotan dari plastik. Oleh karena itu, agar kampanye penggunaan bahan ramah lingkungan ini bisa terlaksana secara global, maka pelaksanaannya dilakukan pelan-pelan sejak tahun lalu.

Tidak hanya itu, salah satu solusi untuk pengurangan penggunaan plastik, pihak Starbucks juga memakai tutup kemasan unik sehingga konsumen tidak perlu menggunakan sedotan ketika membeli produknya.

“Ini kan (tutup kemasan unik) inisiasi awalnya untuk produk cold foam, tapi setelah keluar, ini bisa menjadi solusi untuk tidak menggunakan sedotan lagi. Ini jadi standard untuk minuman yang memakai es,” jelas Vidi.

Pada awalnya, gelas yang digunakan terbuat dari bahan plastik yang terbuat dari minyak bumi. Namun, saat ini pihak Starbucks berangsur-angsur menggunakan plastik daur ulang atau dari limbah plastik yang sudah ada. Jadi, jangan heran jika gelas kemasannya akan tampak menjadi lebih buram.

Vidi menegaskan alasan penerapan kampanye ini, sudah suatu keharusan untuk menuju 2020 bebas penggunaan plastik di Starbucks. Maka dari itu, untuk menuju ke sana, dia dan pihak Starbucks harus mulai melakukannya agar ada perubahan.

“Ini sudah dilakukan tes pasar, sudah higienis, dan diuji oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Komitmen kami adalah bisa mengurangi sampah plastik dengan bahan-bahan yang gampang terurai,” ujar Vidi.

Selain itu, pihak Starbucks mendorong agar para barista menanyakan kepada tamu yang datang ke gerai Starbucks berapa lama yang bersangkutan berada di sana. Jika lama, katanya, maka barista akan menyajikan kopinya dengan menggunakan gelas.

Meskipun menggunakan bahan-bahan mudah terurai yang biayanya lebih mahal, pihak Starbucks memastikan hal tersebut tidak akan mempengaruhi rasa dan harga jual dari produk-produk Starbucks. Harga-harga promo juga akan tetap diberikan kepada konsumen.

“Sebagai bentuk kepedulian kami terhadap lingkungan. Kami juga mendorong program Bring On Your Tumbler saat membeli produk kami. Setiap tanggal 22 memang selalu diskon 50 persen kalau bawa tumbler, di luar itu didiskon Rp 5.000,” tambah Vidi.