Populasi penyu di perairan Selat Bali kembali berkurang. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya bangkai dua ekor penyu di Pantai Desa Perancak, Kecamatan Jembrana pada senin (03/076) lalu.

Penemuan bangkai penyu tersebut merupakan penemuan ketujuh dalam sebulan terakhir ini dan langsung mendapat respons Kelompok Pelestari Penyu.

I Wayan Anom Astika Jaya salah satu anggota dari kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih mengatakan bahwa temuan bangkai dua ekor penyu dalam sehari kemarin sangat mengejutkannya. Pasalnya,penyu yang ditemukan sudah dewasa.

Dia menjelaskan penyu pertama yang ditemukan jenis kelamin jantan usia sekitar 40 tahun di sebelah barat pelestari penyu Kurma Asih sekitar 2 km sebelah timur dari lokasi pertama ditemukan penyu betina dengan ukuran lebih kecil usia sekitar 30 tahun.

“Penyu sudah dewasa semua, kondisinya sudah membusuk,” kata dia.

Pihak dari kelompok Pelestari Penyu Kurma Asih belum bisa memastikan penyebab matinya dua ekor penyu tersebut. Namun, menurut I Wayan Anom Astika Jaya sendiri ada dua kemungkinan matinya penyu di Selat Bali.

Pertama karena pencemaran air laut yang semakin parah, salah satunya adalah sampah plastik. Kedua, karena terjerat jaring nelayan yang menyebabkan luka pada penyu, lalu sakit akhirnya mati.

Oleh karena itulah, dia berharap pihak-pihak berwenang melakukan penelitian lebih lanjut mengenai penyebab pasti matinya penyu. Selanjutnya, dicari solusi agar populasi penyu bisa diselamatkan dari kepunahan.

“Setiap menemukan penyu mati, selalu kami kubur. Kami berharap ada penelitian lebih lanjut agar diketahui secara pasti penyebab dan solusinya,” harap dia.

Sementara, Kelompok Pelestari Penyu lainnya juga sangat mengharapkan pihak berwenang bisa segera melakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui secara pasti penyebab kematian satwa dilindungi ini.