Sebagai orang Bali yang hidup berdekatan dengan daerah pesisir, tidak bisa dipungkiri I Made Wiratathya Putramas dan Carolline Mathilda Nggebu sejak kecil sudah sering bermain ke pantai. Sering bermain di pantai membuat mereka sering melihat kapal-kapal bersandar.

Selain itu, mereka juga seringkali menemui kerang-kerang atau organisme lain yang menempel pada bagian bawah kapal yang terkadang dilihat sangat menjijikkan. Biasanya, bagian bawah kapal itu dibersihkan oleh petugas. Namun, pada akhirnya malah mengotori air laut itu sendiri.

Tentunya, saat itu mereka tidak tahu mengapa banyak sekali organisme itu menempel pada bagian bawah kapal.

Tidak terbayangkan oleh dua remaja asal bali ini, bahwa kisah mereka waktu kecil akan menginspirasi mereka untuk berprestasi hingga ke dunia internasional.

Wiratathya dan Carolline, begitu sapaan akrabnya, berhasil menemukan solusi dari permasalahan yang seringkali mereka lihat waktu kecil itu. Mereka membuat cat ramah lingkungan yang bisa digunakan untuk bagian bawah kapal. Sebab, cat pada bagian bawah kapal yang biasa digunakan saat ini mengandung logam berat.

Lewat permasalahan tersebut, mereka melakukan penelitian yang berjudul Identifikasi Potensi Mangrove Jenis Rhizophoraapiculata dan Sonneratia alba dari Pantai Serangan Bali Sebagai Sumber Bioantifouling Dalam Cat Antifoulant. Penelitian tersebut berhasil membuat mereka membawa pulang Special Award dari instansi terkait sains dan Grand Award sebagai peringkat keempat pada ajang The Intel International Science and Engineering Fair (Intel ISEF) 2019 di Phoenix Amerika.

Kedua siswa SMA 3 Denpasar itu datang ke Amerika sebagai salah satu tim delegasi untuk mewakili Indonesia bersama Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Seperti yang dilansir dari laman Tribunnews, Carolline menceritakan bahwa prestasinya hingga ke Amerika itu berawal dari mengikuti Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) ke-50 tahun 2018 dari LIPI.

“Jadi prosedurnya itu kita ngirimin proposal dulu dari sekolah, kalau lolos nanti dikasi mentor sama LIPI buat ngelanjutin proposalnya itu sampai jadi full paper. Setelah itu baru dilombain,” ungkap Carolline.

Ide penelitian yang dibuat oleh Wiratathya dan Carolline ini mendapat perhatian dari LIPI waktu itu, sehingga proposal mereka disetujui. Kemudian, mereka menyelesaikan penelitiannya dan berangkat ke Tanggerang untuk mengikuti lomba.

“Terus disitu kan dapet juara tiga, ada empat bidang juga. Jadi totalnya ada 12 juara. Dari 12 juara itu diseleksi lagi sama LIPI sampai sisa tujuh tim untuk diberangkatkan sebagai delegasi Indonesia ke lomba INTEL ISEF. Terus kami terpilih satu dari tujuh tim itu, berangkat ke Phoenix,” ujar dia.

Sementara, Wiratathya menjelaskan bahwa proses penelitian mangrove jenis Rhizophoraapiculata dan Sonneratia alba ini menggunakan maserasi bertingkat. Pertama bahannya direndam menggunakan tiga jenis pelarut yang berbeda.

Pada proses pertama, didapatkan zat aktif yang terdapat pada daun mangrove. Proses merendam itu dilakukan dengan tiga pelarut yang berbeda, diantaranya isinexan, isopropyl alcohol dan methanol.

Kemudian dilakukan proses evaporasi. Dengan proses itu didapatkanlah ekstral kental dari daun mangrove. Tidak berhenti sampai disana, proses masih dilanjutkan dengan melakukan pengujian antifouling dengan cara uji fitokimia, uji Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) dan uji Gas Cromatografy Mass Spectrometry (GCMS). Selanjutnya dilakukan uji antimikrofoaling dan yang terakhir uji lapangan.

Saat dilombakan di Amerika, penelitian  kedua siswa kelas XII ini mendapat apresiasi yang luar biasa dari para juri. Carroline mengungkapkan tanggapan juri yang mengerti soal ini. Juri berkata penelitian ini cukup dalam. Dan masalahnya banyak orang yang sudah mencoba untuk mecahin masalahnya. Namun, belum menemukan titik terang.

“Kalau dilihat dari penelitian kami sih itu kalau bisa dikembangkan lagi kedepannya,” tambah Carroline.