Untuk membuat percontohan keramba jaring apung (KJA) yang lebih ramah lingkungan di Danau Batur, Dinas Pertanian Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli telah menyiapkan anggaran Rp 150 juta.

Hal ini bertujuan untuk menekan terjadinya pencemaran di Danau Batur karena aktifitas budidaya ikan dengan pola KJA. Keramba jaring apung yang tidak ramah linkungan juga bisa memicu pendangkalan.

I Wayan Widana, Kasi Budidaya Perikanan Dinas PKP Bangli mengungkapkan bahwa sejumlah petani ikan menggunakan baja ringan yang berdampak buruk untuk jangka panjang. Selain itu, baja ringan dapat menimbulkan pencemaran, lantaran sering kena air hujan baja menjadi berkarat.

“Dari sisi ekonomi memang lebih hemat menggunakan baja ringan, bisa tahan sampai 5 tahun. Jika menggunakan bambu setiap dua tahun harus ganti,” ujar Wayan Widana.

Karena kondisi tersebut, Dinas PKP Bangli akan melakukan percontohan dengan mengembangkan KJA yang lebih ramah lingkungan.

“KJA ramah lingkungan bahannya menggunakan kayu dan bambu serta lapisan jaring double (double net). Selama ini petani hanya menggunakan satu jaring,” ungkap Wayan Widana.

Wayan Widana menjelaskan dengan sistem double net, sisa makanan dan kotoran tidak akan langsung tersebar di air danau, namun akan tersangkut pada jaring ke dua. Nantinya sisa makanan dan kotoran bisa diangkat untuk pupuk tanaman.

Dia juga menuturkan langkah awal program pembuatan KJA ramah lingkungan, Pemkab Bangli akan anggarkan Rp 150 juta dengan tiga unit KJA percontohan. Ukuran KJA sendiri adalah 4×4 meter dengan kedalaman tidak boleh lebih dari 3,5 meter. Di pinggir KJA akan diisi tanaman air yang juga memiliki nilai ekonomis. Sementara, berdasarkan kajian, pengembangan KJA direkomendasi 1 persen dari luas Danau Batur.

“Harapan kami nantinya petani yang lain bisa mengikuti penerapan KJA ramah lingkungan,” tambah Wayan Widana.