Pada bulan Maret lalu, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), Kabupaten Bangli berencana menjadikan Pasar Loka Crana menjadi percontohan pasar bebas sampah plastik. Untuk mewujudkan program tersebut, pedagang yang berjualan di pasar setempat nantinya akan diminta menyediakan tas kain untuk membungkus barang belanjaan para konsumen.

 “Kita rencanakan seperti itu. Biar ada perbedaan dengan pasar lainnya. Jadi pasar percontohan,” kata Kepala Disperindag Kabupaten Bangli , Nengah Sudibya. Seperti yang dilansir di laman Balipost, Sudibya mengakui, untuk mewujudkan hal itu tidak mudah. Harus ada dukungan dari para pedagang maupun konsumen.

“Minimal, yang belanja bisa membawa tas kain. Sehingga tidak pakai plastik,” kata Sudibya.

Sudibya mengatakan untuk membatasi penggunaan plastik di Bangli, pihaknya pada akhir Januari lalu telah bersurat ke para pedagang Pasar Rakyat, pelaku usaha toko swalayan dan pelaku usaha lainnya. Di suratnya tersebut, pihaknya mengimbau pedagang dan para pelaku usaha untuk tidak menggunakan kantong plastik sekali pakai dalam melayani konsumen/pembeli saat bertransaksi.

Dia juga meminta kepada para pedagang dan pelaku usaha untuk menyampaikan kepada konsumen/pembeli agar membawa kantong plastik berbahan ramah lingkungan atau tempat belanjaan sendiri setiap melakukan transaksi. Pada surat itu, Disperindag juga mewajibkan petugas pasar rakyat menyosialisasikan Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 Tahun 2018 tentang Pembatasan Timbulan Plastik Sekali Pakai kepada para pedagang dan konsumen/pembeli di Pasar Rakyat.

Menurut Sudibya, sejak diberikan surat imbauan tersebut, sejauh ini sudah mulai ada perubahan perilaku dari pedagang maupun konsumen. Hanya saja perubahannya tidak signifikan. Buktinya, beberapa pelaku usaha toko swalayan, sudah ada yang menyampaikan ke konsumen tidak menyediakan plastik. Beberapa dari mereka juga mulai menyediakan kantung belanja berbahan kain.

“Kalau di pasar rakyat masih belum maksimal. Karena itu, maka harus kita genjot lagi,” ujarnya.

Selain menyurati pedagang pasar dan pelaku usaha swalayan, Sudibya mengaku juga sudah mendorong perajin-perajin di Bangli untuk berinovasi membuat produk-produk rumah tangga pengganti plastik demi mewujudkan penggunaan plastik. Produk-produk inovasi yang dimaksud adalah sedotan berbahan bambu, gelas dari bambu, dan kantung belanja berbahan kain.

“Harapan kita perajin di Bangli menangkap peluang ini dengan berinovasi membuat produk-produk yang berbahan ramah lingkungan sehingga penggunaan plastik di masyarakat bisa terus berkurang,” tambahnya.

Saat ini, sudah ada satu orang perajin di Kelurahan Kawan yang mulai membuat sedotan berbahan bambu. Hanya saja pembutannya belum dalam jumlah yang besar.