Salah satu desa di Tabanan bernama Desa Munduk Temu, kecamatan Pupuan sedang berusaha menjadi Desa Wisata. Desa ini mulai menerapkan pararem atau aturan desa adat terkait sampah.  Aturan desa tersebut adalah sebuah sanksi kepada masyarakatnya yang membuang sampah sembarangan di wilayah desa ini berupa denda Rp 250 ribu.

“Rp 150 ribu akan diberikan kepada mereka yang memergoki . Jadi hal ini kami lakukan untuk kenyamanan bersama dan bukan sekedar melihat nominal yang ditawarkan,”ujar I Nyoman Wintara selaku Perbekel Desa Munduk Temu seperti yang dilansir dari laman Kumparan.

Semenjak aturan tersebut diberlakukan di bebeapa wilayah desa ini, pernah sekali wisatawan yang kedapatan membuang sampah sembarangan dan dikenakam aturan tersebut. Tiga desa pakraman di Desa Munduk Temu tersebut masing-masing adalah Desa Pakraman Kebon Jero, Desa Pakraman Munduk Temu, dan Desa Pakraman Anggasari.

Selain itu, aturan ini diberlakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan agar tetap asri dan bersih sehingga kearifan lokal dan ekosistem di desa setempat senantiasa terjaga.

“Larangan termasuk tindakan setrum dan meracuni ikan hingga berburu burung dan untuk besaran denda masing-masing berbeda,” kata I Nyoman Wintara.

Menurut I Nyoman Wintara, di tahun 2019 Desa Munduk Temu akan dikembangkan lag. Salah satunya adalah seperti dibukanya ground camping dan desa wisata.

“Saat ini yang baru berjalan adalah spot selfie Desa Munduk Temu, target Juni 2019 camping ground sudah beroperasi,”ujar I Nyoman Wintara.

Dia bersama warganya secara bertahap akan melakukan pembenahan dan tetap dengan konsep dasar menjaga kelestarian lingkungan dan budaya.

“Untuk view disini kota memdapatan sunset dan sunrise, view Gunung Batukaru dan perbukitan Sepang sedangkan produk yang dikembangkan adalah Kopi Robusta yang dikenal dengan merk “Kopi Leak”, tambah I Nyoman Wintara.