Penerapan Teknologi Ramah Lingkungan di Kabupaten Tabanan dengan Pemerintah Jepang

Ni Putu Eka Wiryastuti selaku Bupati Tabanan, kembali melakukan audiensi bersama Pemerintah Toyama, Jepang, pada bulan Maret lalu. Audiensi ini membahas pokok bahasan tentang penerapan teknologi ramah lingkungan di kabupaten Tabanan.

Dalam audensi tersebut, pemerintah Jepang diwakili oleh Mr. Tanaka dan Bupati yang akrab disapa Eka itu didampingi oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Tabanan, AA. Dalem Tresna Ngurah.

Rencananya, pemerintah Toyama, kali ini akan memberi bantuan berupa Rice Milling (Penyosohan Beras) dan teknologi ramah lingkungan untuk angkutan trans serasi serta pengolahan sampah.

Bupati Eka menyampaikan alasan mengapa Pemerintah Toyama selalu memilih Tabanan dalam penyaluran bantuan adalah karena mereka beranggapan bahwa Daerah Tabanan ini mirip seperti daerah di Toyama.

Disamping itu, Bupati Eka juga mengutarakan tentang pentingnya teknologi ramah lingkungan dan teknologi terbarukan bagi masyarakat. Bupati Eka berkata bahwa mereka (Pemerintah Toyama) telah beberapa kali melakukan kunjungan, melakukan survei dan melihat letak geografis Tabanan dan masyarakat Tabanan, dengan masyarakat Tabanan yang mayoritas adalah petani, dan mereka tertarik ikut menjaga warisan budaya dunia yang ada di Tabanan.

“Jati luwih merupakan salah satu World Heritage, dimana Toyama juga sangat ingin berpartisipasi menjaga warisan budaya dunia ini. Oleh karena itu dalam bentuk apapun, energy, sumber daya apapun yang mereka punya, pengalaman yang mereka miliki, mereka ingin transfer knowledge dengan Tabanan sehingga Tabanan menjadi Pilot Project bagi Toyama sendiri. Bahwa apa yang sudah berhasil di Toyama bisa dibawa ke Kabupaten Tabanan,” ungkap Bupati Eka.

Selain Rice Milling dan PLTA, Bupati Eka menjelaskan Tabanan juga dibantu mesin persampahan, mengkaji berupaya menggantikan energi minyak dengan energi gas khususnya untuk angkutan Trans Serasi yang merupakan program unggulan dari Pemkab Tabanan.

“Kita ada 200 armada yang akan ditransfer menjadi gas, sehingga akan menjadi suatu fasilitas publik yang aman, nyaman tidak polusi dan termasuk salah satu program untuk Indonesia. Pak Presiden, Pak Gubernur juga menginginkan ramah lingkungan. Jadi kita akan buatkan contoh itu di Tabanan, dan rencananya akan dilakukan study selama 3 tahun karena kita harus men-convert dulu kendaraan dan kita harus menyiapkan Gas Station,” ujar Bupati Eka.

Untuk hal tersebut, Bupati Eka akan mengkajinya serta melakukan koordinasi dengan pihak Kementrian ESDM RI terlebih dahulu, karena harus bekerjasama dengan Pertamina dalam mewujudkan Gas Station.

“Dan nanti untuk convert mesinnya akan disiapkan oleh Kementrian Lingkungan Hidup Jepang, untuk Stationnya sendiri dari JICA yang bekerjasama dengan Pertamina,” kata Bupati Eka.

Meskipun secara umum, proyek ini disupport dan didukung penuh oleh Pihak Toyama Jepang. Namun, Pihak Jepang harus mengikuti proses dan prosedur yang benar mengenai mekanisme dan administrasi, karena ini menyangkut kerjasama dua Negara.

“Tentunya karena ini menyangkut dua Negara, kita harus meminta restu dengan kementrian terkait, dengan Pak Gubernur Bali agar direstui dan dikasi ijin serta minimal mereka tahu program kita yang ada di Tabanan,” jelas Bupati Eka.

Terkait mengenai sampah, pihak Toyama sendiri masih merencanakan sebatas pengelolaan sampah kompos atau sampah organik menjadi kompos saja. Padahal, Pemerintah Tabanan selalu terbuka dengan segala proyek yang akan dilaksanakan di Tabanan, sepanjang program tersebut bermanfaat bagi masyarakat Tabanan. Dan tidak dipungkiri juga bahwa sampah organik sangat membludak di Tabanan, seperti contoh sampah Upakara, sampah pasar, dan sebagainya.

Maka, untuk menanggulangi hal tersebut, Bupati Eka  berencana agar sampah tersebut tidak melulu harus dibuang ke TPA dan masyarakat harus sadar jangan membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai karena akan sangat mencemari lingkungan. Pemkab pun akan berupaya mendidik dan membina masyarakat agar bisa memiilah sampah dan mengolah plastic. Sehingga punya kesempatan mengedukasi masyarakat bagaimana mengolah sampah rumah tangga dengan baik sehingga bermanfaat.

“Disamping itu kita juga punya bank-bank sampah yang akan kita bina kembali untuk memantapkan kinerjanya. Khususnya Pemuda atau Sekaa teruna-teruni harus digerakan juga. Pemuda tidak boleh cuek dan acuh tentang sampah. Ayo kita olah sampah ini seperti sesuatu yang bisa menjadi berkah dan bermanfaat. Itu tentunya dimulai dari anak-anak sekolah, Sekaa Teruna-Teruni dan Ibu-ibu PKK atau Ibu-ibu rumah tangga,” tambahnya.