Melati Wijsen menjadi salah satu sosok muda yang bisa  menginspirasi. Cewek blasteran Jawa-Belanda ini usianya baru menginjak 18 tahun. Tapi kalau ditanya kiprahnya, jangan ditanya lagi. Dia mampu mengubah dunia lewat organisasi ‘Bye Bye Plastic’ sejak 2013.

Bermula dari tugas sekolah saat Melati berusia 12 tahun, gurunya memberikan PR untuk berbuat perubahan (changemaker) dengan mengambil inspirasi dari RA Kartini dan Nelson Mandela. Dia hanya membuat petisi di Facebook yang isinya ajakan untuk mengurangi sampah plastik di Pulau Dewata Bali.

Kemudian dia terkejut. Pasalnya, petisinya direspon oleh banyak kalangan. Bahkan dia juga didukung oleh pemerintah Bali. Tak hanya itu, puluhan LSM lingkungan diakui lembaga internasional sekelas PBB mengakui petisi yang dibuatnya.

“Pengalaman pertamaku berbicara di forum internasional ya saat jadi pembicara di World Ocean Day tahun 2017 bertajuk “Our Ocean, Our Future”. Aku bicara soal isu sampah plastik di Sekretariat PBB New York, Amerika Serikat,” ujar Melati Wisjen.

Melati mengatakan bahwa saat dia mendirikan ‘Bye Ble Plastic’, dia tidak sendiri. Bersama adiknya yang bernama Isabel Wijsen, mereka selalu rutin memungut sampah plastik yang berserakan di pinggir pantai.

“Dulu aku sama Isabel bikin beberapa pilar yang pendekatannya ke arah education, one island one voice, pilot village dan global. Aku sih waktu itu optimistis inisiasi ini butuh kolaborasi dengan semua orang biar jadi movement besar,” jelasnya.

Melati juga mengatakan, sejak berdiri enam tahun yang lalu, dia sudah berkeliling dunia untuk menyuarakan misinya mengurangi sampah plastik. Tidak cuma di Bali, dia pun keliling ke berbagai sekolah untuk mengajak teman-teman sebayanya mengurangi penggunaan sampah plastik.

Hingga saat ini, Melati sudah berhasil berbicara di hadapan puluhan ribu pemuda di seluruh jagad. Kerja kerasnya pun berbuah penghargaan. Dia berhasil meraih CNN Heroes-Young Wonders Award 2018.