Penataan di area Pantai Kedonganan bagian selatan, mulai dikerjakan. Kondisi pantai yang sebelumnya kotor, mulai dibersihkan secara bertahap. Langkah pertama yang dilakukan adalah menggunakan satu alat berat untuk meratakan pasir pantai yang sebelumnya berantakan.

Menurut Bendesa Adat Kedonganan, Wayan Mertha penataan kawasan pantai ini bukan berarti akan menghilangkan keberadaan nelayan di sana. Bahkan kesejahteraan nelayan di sana juga akan ditingkatkan. Fungsi bangsal milik nelayan akan tetap dipertahankan. Hanya saja bangsal tersebut nantinya akan diatur supaya lebih rapi.

Tidak seperti saat ini yang kondisinya tidak tertata. Bangunan yang sudah ada, yaitu 6 bangunan bangsal, dua bangsal diantaranya akan tetap digunakan untuk aktivitas nelayan. Sedangkan empat bangunan sisanya akan disulap menjadi mini beach club.

Untuk penempatan jukung sendiri nantinya juga akan ditata dan dirapikan. Sementara, kawasan pantai yang berada di selatan Pura Segara, rencananya akan dibuatkan obyek yang menggabungkan aktivitas nelayan dan wisata.

“Seperti beach club, yang mana wisatawan bisa sambil minum kopi, maupun makan, sambil mandi dan berenang serta berjemur di atas long chair,” jelasnya.

Dijelaskan pula oleh Wayan Mertha, rencana penataan ini dilakukan karena saat ini nelayan sudah sangat sulit mencari ikan. Tak hanya itu, nelayan juga terkendala wilayah tangkapan ikan yang cukup jauh, serta alat untuk menangkap ikan yang semakin mahal.

“Mereka harus dikembangkan aktivitasnya. Tidak hanya menangkap ikan, namun juga menggaet turis,” pungkasnya.

Wayan Mertha yang merangkap sebagai dosen di STP Bali ini mengungkapkan bahwa terkait pembiayaan untuk penatan dibiayai oleh Desa Kedonganan. Diperkirakan, penataan ini akan menghabiskan dana sebesar Rp 300-400 juta. Sedangkan untuk proyek ini sendiri ditargetkan bisa selesai dalam tiga bulan. Sehingga saat Mina Wisata Festival pada September, penataan sudah selesai.