Konsep revitalisasi TPA Sarbagita Suwung bukan hanya penataan agar lebih nyaman untuk warga dan ramah lingkungannya saja. Namun, juga berfungsi untuk mengatasi peningkatan volume sampah di Bali hingga tahun 2020 dengan metode Waste to Energy (WTE)

Waste to Energy merupakan konsep energi terbarukan, yang sekaligus akan mengatasi krisis energi dan sampah.

Ida Bagus Lanang Suardana selaku Kepala Satuan Kerja Pengembangan Sistem Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Satker PSPLP) menjelaskan bahwa persoalan sampah linier dengan pertumbuhan penduduk. Sampai ambang 2019, pengelolaan sampah di Bali perlu dikembangkan ke sistem WTE.

“Sampah tidak ditimbun lagi tapi dibakar menggunakan insinerator. Revitalisasi TPA Suwung sudah mengarah ke konsep WTE,” jelas Ida Bagus Lanang Suardana, seperti yag dilansir dari Koranjuri.

Pekerjaan penataan TPA Suwung mencakup 32,4 hektar lahan yang akan dioptimalkan sebagai tempat pembuangan akhir sekaligus penghijauan.

Kemudian, 22,4 hektar akan ditata sebagai kawasan wisata kota dengan dibangun lintasan jogging track dan penghijauan. Sedangkan 5 hektar akan difungsikan sebagai sanitary landfield. 5 hektar sisanya adalah lahan kosong yang disiapkan untuk pengembangan metode WTE.

“Mau tidak mau WTE harus diterapkan di Bali, karena tidak ada pilihan lain. Sementara, lahan di Denpasar ini sudah semakin menyempit,” jelas Lanang Suardana.

Sementara, proyek Revitalisasi TPA Sarbagita Suwung sendiri sudah dikerjakan secara tahun jamak hingga 2019. Penataan gunung sampah itu juga sebagai persiapan akan digelarnya event tahunan pertemuan International Monetery Fund-World Bank (IMF-WB) di Bali pada Oktober lalu.

Sebagai informasi tambahan, proyek ini didanai oleh APBN dengan nilai kontrak tahun jamak sebesar Rp 250 miliar.